Desain Rumah Minimalis Model Ruko 1 Dan 2 Lantai

Desain rumah ruko- Sederhana, rendah hati dan penuh syukur Ungkapan itulah yang paling tepat ditujukan pada keluarga pasangan Ken Sebastian dan Adelia. Ken dan Adelia, sejak lama bermimpi untuk memiliki rumah tinggal DENGAN desain rumah ruko yang nyaman tidak saja bagi mereka berdua tetapi juga cocok untuk anak-anak mereka bahkan untuk kedua orang tua mereka yang telah berusia lanjut. Untuk mewujudkan niat mulia tersebut, mereka rela bersabar menunggu waktu yang tepat sesuai dengan kondisi lahan sampai memungkinkan untuk sebuah rancangan baru.Sejak tahun 80-an, keluarga ini sudah tinggal di kawasan perumahan di ujung Jakarta Utara.

ldentitas rumah-rumah di lingkungan ini mengarah kepada bentuk desain rumah ruko 2 lantai . Bentuk tempat tinggal seperti itu, dianggap sesuai dengan jenis pekerjaan mereka yang sebagian besar pemilik rumah di kawasan tersebut. Dibalik itu, Ken dan Adelia berani membuktikan kepada lingkungannya bahwa tempat tinggal yang nyaman berkaitan erat dengan kejelian perancang mengolah ruang-ruang dengan kemasan akhir sebuah bentuk arsitektural yang menarik. Adalah Daniel, arsitek yang diberi kepercayaan untuk merancang kembali rumah pasangan usahawan tersebut. Prinsip rancangan tetap mempertimbangkan kecintaan pemilik terhadap lingkungan rumah lama dengan ciri khasnya. Lahan berukuran 1 5 x 1 7 m yang pernah dilanda banjir setinggi 70 cm, disiasati arsitek dengan menguruk tanah setinggi 2 m untuk mengantisipasi mencegah air masuk. Dengan bantuan Sutjipto Handoko, seorang tenaga ahli bangunan dan kontraktor yang memiliki nama baik di kalangan para perencana bangunan, rumah baru seluas 500 m2 pada akhirnya dibangun.

Daniel menerapkan desain rumah ruko 1 lantai  ini berdasarkan aktivitas utama pemilik sebagai pengelola toko yang setiap hari harus bergelut dengan barang dagangan dalam jumlah banyak.Dengan aktivitas yang begltu padat, pemilik sangat membutuhkan ruang di dalam rumah yang memiliki ikatan emosional antaranggota keluarga. Dengan demikian keakraban secara emosi dapat ditunjang dengan kedekatan secara fisik dengan cara memaksimalkan ruang-ruang yang bisa digunakan bersama.

Di samping itu, hobi Adelia memasak kue atau makanan dalam jumlah besar diakomodasikan oleh arsitek dengan membuat sebuah ruang utama dengan ukuran yang memadai.Tidak lupa pula disisakan area sebagai sarana memelihara ikan koi yang sejak dulu menjadi salah satu hobi pemilik.Namun, kebutuhan ruang-ruang yang standar seperti kamar tidur, ruang keluarga dan ruang makan tetap menjadi prioritas.Dengan kebutuhan yang beragam itulah, pada akhirnya Daniel mengupayakan solusi praktis di atas lahan tersebut dengan cara merancang level lantai hingga tiga setengah lapis untuk mengakomodasi aktivitas penghuni rumah.Konsekuensinya adalah pola sirkulasi split level yang tampak dinamis.

Bagian depan rumah yang sengala disisakan sedikit lahan, dimanfaatkan untuk pengolahan kolam ikan koi dengan kedalaman 2 m, Area ikan koi tersebut sekaligus dipakai untuk tempat duduk layaknya foyer. Ruang setengah terbuka ini dirancang Daniel dengan kisi-kisi beton horisontal untuk menghalangi pandangan luar ke dalam rumah. Jarak antar kisi-kisi cukup lebar dan dirancang menerus ke samping rumah sebagai salah satu tampilan arsitektur.

Kejutan demi kejutan disuguhkan arsitek melalui permainan besar kecil ruang sejak awal kita melalui pintu masuk.Tangga kecil dan sempit dengan lebar tangga sekitar 87 cm di samping rumah, dipilih Daniel sebagai jalur masuk menuju ruang dalam di lantai dua.Begitu masuk, kita kembali dikejutkan dengan pemandangan ruang keluarga yang lapang. Ruang keluarga berukuran 9 x 7 m, diciptakan untuk tempat berkumpul dan berinteraksi dengan sesama anggota keluarga. Ruang ini luga merupakan sebuah void besar sebagai penghubung dan sarana komunikasi langsung penghuni dari ruang per ruang.